Tampilkan postingan dengan label Untuk Rembulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Rembulan. Tampilkan semua postingan

24.4.15

Kau Masih Setia Melukis Senyum

Sayup mulai kau lantun nadanada
Pada ujung malam yang kian pekat ini
Sekedar ingatkan aku bahwa telah lama kutersesat
Pada jalan fana pintupintu tak habishabis selalu jeratkan angan
"Syairmu telah lumpuh" kau bilang padaku
Entahlah pun aku tak juga temukan kembali
Amarah dari gelisah harihari

Kau sodorkan pena dan kertas seraya tersenyum
Namun hampa jiwa lumpuhkan sendisendi untuk menyambutnya
Entah aku memang benar tersesat
Atau ini sekedar ilusi dari semakin rumitnya putaran bumi
Kau pun tetap setia duduk di depanku
Sambil tebarkan isyarat akan ribuan makna
Yang seharusnya mampu kurangkai
Dalam untaian katakata seperti yang biasa
Aku tetap terpaku
Dan kau masih setia melukis senyuman

23.3.12

.......................................................

jejak kemarin masih membekas
terukir rapi pada pelataran jiwa yang kini seolah meradang
masih seperti dulu apa yang kupandang
pada kesunyian sukma yang kini entah kapan akan kembali berdendang
aku terus berharap lelah tak kan pernah datang
hingga kau kembali oleskan warna pada kanvas hidupku

semoga kau tak sirna asa
aku masih yakin bahwa benih itu masih ada
aku pun yakin kau tahu itu
sesakit apapun kini yang telah kurasa
bukan penyesalan yang akan datang pada sentuhan
masih terus melintas saat kita melayang bersama
tubuhmu dan tubuhku menyatu tersiram peluh dan tawa
ketika itu aku merasa kita memang ditakdirkan menyatu

semoga segala jejak itu pun masih tetap terukir pula pada sudut hatimu
meski mulai kabur karena kebodohanku
tapi aku akan terus mencoba mengukirnya kembali
hingga tak satu pun keindahan dunia mampu melampuinya
aku berharap kau masih mau membukakan pintu untukku
dan ijinkan aku untuk membasuh segala luka
meski harus kurasa pula luka yang sama
aku tak menolak untuk itu...
sebab telah kusandarkan segalanya padamu
aku pun rela gantikan segala sakit yang kau rasa
bahkan jika harus serahkan nyawa sekalipun



0502'12





















20.1.12

Pada Beku Dalam Diam

Mengingat kembali segala kisah lampau pada pandangan
Seolah aku mengerti bahwa telah kau bisikkan kehidupan dalam suram langkah
Pada beku dalam diam
Segala perkataan sirna makna oleh penghianatan
Lupakan langkah, sebaiknya kita sudahi
Sebab segala ambisi membakar jejak yang telah kita ukir bersama
Aku takkan menyesali segala cerita
Mungkin beberapa, ketika tubuhku seolah mati oleh sentuhan hina
Dan fikiran mengembara seolah telah lupa pada siapa atau apa

Sekali lagi ingin kudekap jiwamu
Ingin kembali kurasa kehangatan yang dulu selalu ada di sisi perjalanan
Dan ingin kukatakan segalanya padamu
Segala perkataan yang tak pernah sempat kutitipkan dalam lembaran masa lalu
Sebelum benar-benar telah usai langkahku
Sebab makin rapuh kini raga dan jiwaku




















loopdreamer photography

14.5.10

Kurindu Hujan, Meski Kadang Kejam

Terlanjur tak berasa pula pedih ini menyapa senyuman pucat itu
Bayanganmu kini semakin kabur dalam derai rintik sore tadi
Tak dapat kubaca langkahmu menarikan puisiku dulu
Aku semakin kehilangan katakata untuk membuatmu menulis cerita hujan
Hanya suarasuara... Mereka menjerat siluet senja emas agar tak lekas datang

Meski tak lagi deras menghujam perbincangan kita
Kau tetap saja mengira kita tak akan sanggup menembus basah
Seakan sisa hujan masih kejam tebarkan tangisan harapan
Tapi aku tetap akan membacanya
Meski terbata, aku masih punya sedikit asa untuk melukis cahaya
Aku mohon kau tetap bersedia untuk menunggu makna yang kucoba ungkapkan
Sendiri bukan alasan untuk membakar kesempatan itu
Dan kuharap kau bisa menikmati titiktitik sisa hujan ini


















Photograph by : Me

22.3.10

Gadis Pemetik Gitar

;untuk masa lalu
Rerumput berlarian mengejar angin
Saat membawa denting pada lentik jemari
Menembus ribuan dimensi
Lagilagi bangunan puisiku runtuh
Tercecer di antara nadanada
Dan senja pun menghentikan langkahnya

Pada diamku yang ke sekian kali
Terungkap sesuatu pada tipis bibirmu
Yang tak terpecahkan oleh musim
Juga deretan abad manusia
Kembali aku kehilangan katakata

Kejujuran mentari seakan lelah memutar waktu
Ketika petikanmu mampu menikam angkuhnya cakrawala
Menjegal kesombongan perjaka
Pada pengembaraannya untuk temukan sarang



17.3.10

Letih

Kali ini aku benarbenar tak sanggup lagi membaca senyummu
Katakata melaju tertatih pedih
Mencecar rasa selaksa hampa
Tak kurang murka mentari teriakkan parau
Sendiriku tak mudah santunkan hadirmu oleskan malam
Aku semakin rapuh...
Mengapa tak rubah masa selipkan satu bintang saja
Maka semakin maya pandang harapan yang dulu kusembah
Datanglah...
Meski hujan belum usai senandungkan rintihan musim

Kekasih,
Masih tak mampu ku lukis warna hatimu
Sebab ketakutanku padamkan cahaya rembulan di atas sana
Meski ku tahu kau masih selalu mencoba membakar malam
Tapi api itu akan selalu padam oleh rintikrintik persaudaraan
Dan aku takut kau lelah lantunkan sajak
Sebab memang aku selalu bisu
Meski kau sadar, aku pun sadar
Bahwa kau dan aku adalah katakata

Mungkinkah kita sanggup memikul
Atau kita akan kembali terlempar
Aku tahu betul bagaimana rasanya
Mungkin kau tak...
Dan kuharap takkan pernah
Apa sebaiknya kita sudahi saja
Dan kau akan lupa segala perih
Aku tahu kau bisa
Sebab masamu masih terlalu panjang untuk kuseret letih




4.3.10

Senja Tanpa Hujan

Menunggu merahnya senja ini, kekasih
Aku kehilangan hangatnya senyum cakrawala
Hanya sebongkah awan merah kesepian diantara gumpalan hitam cumulus
Sepi...
Sesepi nafasmu kini yang telah larut oleh hujan kemarin
aku tak mampu berkatakata
Semakin kuraih tak juga habis jarak mentari
Dan harapan?
Mungkin hanya sekedar barisan kalimat pelebur dosa
Dan mungkin rembulan takkan datang malam nanti
Aku semakin resah...
Mampukah...
Sudahlah...
Dan diam adalah jawaban terakhir untuk mendatangimu





1.3.10

Maya

Kekasih;
Berkalikali kucoba jejalkan wajahmu dalam otakku
Agar suatu saat ketika ingin mendekapmu
Cukup kusentuh dalam mimpi
Tapi ternyata jiwaku tak mampu menerima
Betapa dirimu tak tersentuh

Bukankah dulu pernah kukatakan
Bahwa rembulan takkan lupa datang untuk mewarnai setiap sudut malam
Tapi mengapa malam ini dia malah terlelap di balik selimut kebohongannya

Bukankah dulu kau juga pernah bilang
Bahwa kau akan selalu hadir dalam setiap jengkal perjalananku
Tapi mengapa hari ini aku benarbenar merasa tidak pernah mengenalmu






22.2.10

Selangkah Lagi Kita Sampai Gerbang

Apakah kita harus berhenti sampai di sini?
Atau kita kembali saja ke dunia kemarin?
Ketika tirai panjang mulai tersibak
Keraguanmu memaksaku mempertanyakan kembali arah kita

Aku pun sadar kita telah lama bersama
Memaki matahari dan mencumbui rumputrumput basah
Dan aku masih ingin bersamamu untuk menikmati derai hujan
Meskipun kita harus melalui perjalanan yang melelahkan






17.2.10

Petikan Ungkap

I
Kekasih,
Aku menemukan serpihan hati
Tercecer di sudut sebuah taman

II
Kekasih,
Jangan punah rasa
Ketika bedil meletup menyayat sejantung masa
Harihari melompat memakna sayat
Tangisi bingkaibingkai rajaman hunus

Perempuan,
Gegurit tembang melenggang layu
Menyeret pedih derita kanak
Pada sebuah kubangan comber
Aku tersenyum... Menjilat luka...

Di sudut sana wajahmu terbenam kepungan gelak
Sementara abadku telah usai mematri cinta
Namun tak sempat menyentuh tapakmu...






11.2.10

Membunuh Keangkuhan di Puncak Mahameru

Membakar sudut jiwa ini dengan sisa asa
meski mentari masih terlelap berselimut kabut
Keangkuhanku mengantar tubuh menjejak peraduanmu
Lupakan saja tangisan...
Sebab saat ini aku tak punya waktu untuk manjakan rintihan
Kuharap serapahku tak letih mengecap langkah

Tak usai perjalanan tergapai cahaya
Kegagahanmu selalu kerdilkan tatapanku
Aku tergugu...
Tak habishabis airmata menumpah
Terhapus sudah jejakjejak kesombongan
Di puncak Mahameru keangkuhanku terbunuh letupan debu mu...


Sept, 2009






Mencumbu Beku di Kalimati

Saat langkah terhenti oleh batas detikdetik
Terpaku mata tak bosanbosan
Menyentuh kering rerumput lembut
Sedang bercanda dengan kemuning edelways

Aku tak sanggup bicara
Hanya kebekuan menyergap bersama senyuman sunyi
Kuharap kau tetap di sini
Menemaniku menyeduh kopi dan merajut harihari
Meski kabut tetap angkuh selimuti hamparan pasir Kalimati


Sept, 2009






Setitik Embun di Bibir Ranu Kumbolo

Memaki sunyi...
Tak lelah bibirmu menyapa keletihan peziarah mengurung beku
Kau memberi sentuhan pada layu langkahku
Sendiri tersembunyi di balik tarian rerumputan
Mendendang hembusan...

Jika memang meracun
Hanya musim yang selalu memegang janji
Tangantangan tak bosan mencaci
Kuharap masih selalu ada untuk kusentuh
Mengharap tak pernah mengalir
Kerinduanku tertanam di sini
Pada senyummu...
Terbias setitik embun di bibir Ranu Kumbolo


Sept, 2009






6.2.10

Hujan Dan Sebatang Rokok

Dia yang telah lama terbungkam dalam sesak kata
Menetes di sela malammalam menghitam
Melarutkan kesedihan tak kurangkurang
Dan sebatang rokok teronggok layu
Tak pernah mampu sirnakan sunyi di sudut otak
Menarilah karena aku tak pernah usai terkekang rindu
Biarlah tetap melantun suarasuara rintik
Sebab tak kunjung harap kau akan tetap melayang
Aku pun masih terjebak dalam maya... imaji... sesat... langkah

Sempurnakanlah...
Sebab hanya kau yang mampu bernyanyi dalam hujan
Hanya sentuhanmu yang mampu hembuskan maya
Aku akan tetap berharap meski semakin larut terbawa kabut
Hanya mampu menahan perihnya harapan
Berteman hujan dan sebatang rokok...





3.2.10

Skenario UlatUlat Menggerogoti Rembulan

Drama sepanjang hari tak kunjung usai
Meski ulatulat telah memenuhi sekujur langit
Peran demi peran silih berganti berloncatan
Meski skenario telah menutup halaman terakhirnya

Detik demi detik, menit demi menit
Ulatulat mulai menggerogoti rembulan
Meski tangisan telah meretak dalam pleidoinya
Rembulan kehilangan peran...

1.9.09

Malammalam Tanpa Luka

Tak perlu kembali mengingat langkahlangkah
setiap bebatuan adalah ceritaku hari esok
malammalam beku tak usaiusai
rembulan pun tertusuk ilalang
diamdiam melantun lagulagu mimpi
pada bayang masa lalu
apakah kau selalu di sana...
terduduk malumalu menjaring katakata
aku luka... dan kau membiru... lalu...

kuharap kau tak pernah bertanya siapa aku
Sebab tak kunjung usai kuhitung waktu bersamamu
lupakan saja bayang hitam menghadang pandang
biarkan tetap maya matamata kita
jangan pikirkan ratapan luka pada ragu
setiap kedatanganmu adalah...
malammalam tanpa luka

(untuk bidadari pemimpi)

26.8.09

Bulan Hujan dan Perempuan di Sudut Taman

Bulan hujan, kekasih...
Aku belum juga terlelap
Ketakutanku akan jawaban semakin menuntutku untuk lontarkan tanya
Kau masih saja bersiul
Sementara pisaupisau tajam menghunus kata
Bulan hujan, kekasih...
Aku di sini masih saja memeluk rembulan
Bintangbintang mengutukku
Tapi aku akan tetap di sini
Selalu di sini...
Untuk menari...

Bulan hujan, kekasih...
Dan gemerlap rembulan mampu membius relung pertikaian
Aku akan selalu datang
Membawamu merajut bintangbintang
Bulan hujan, kekasih...
Jangan pernah takut akan matahari
Meski sinarnya tajam menghujam
Kita akan berpayung anyamanyam cirrus
Bulan hujan, kekasih...
Bahkan cericit camar iri akan kisah ini...

Bulan hujan, kekasih...
Hadirku kini bukan untuk mengutuk sang hari
Hadirku kini hanya untuk melukis wajahmu
Di kanvas langit dengan gemintang dan taburan sinar rembulan
Bulan hujan, kekasih...
Benarkah kau akan datang
Seperti janji malam pada siang
Purnama ini seperti saat itu
Kau pasti akan datang
Saat cumulus menyergap butir bintangbintang
Aku akan menunggumu menyalami purnama
Meniup sisasisa rindu
Bulan hujan, kekasih...
Aku akan terus menari menjejaki takdir
Aku akan terus menari untuk menunggumu...

Bulan hujan, kekasih...
Temaram rembulan kini enggan bercanda
Sebab dia lelah... sangat lelah...
Memacu bingkaibingkai malam
Mendendang rindu pada garisgaris mimpi
Bulan juhan, kekasih...
Kutunggu kau mengoles jejak
Di sini...
Selalu di sini...

Bulan hujan, kekasih...
Mengecap harihari semakin membawa inginku untuk membasuh wajahmu
Langkahlangkah ini membiru
Membawa titik akhir pada pertikaian
Apa kau masih di sini
Memeluk rembulan dalam redup kabut
Sayu wajah menghias kelam
Mendendang syair pada malammalam bulan hujan
Bulan hujan, kekasih...
Kubunuh ragu untuk berdatang
Menjawab rindu dalam teriak serdadu
Selalu kubawa detikdetik darimu
Untuk dihenti oleh satunya kita

Bulan hujan, kekasih...
Jejakmu yang dulu kau tinggal
Kini semakin memudar di telan kabut
Garisgaris mimpi semakin berpendar
Tapi aku masih menari
Menari untuk memapas rindu
Bulan hujan, kekasih...
Aku masih terus menari
Meski laras senapan telah hentikan detikmu
Sebab masih terus kuyakin
Bahwa pada tujuh purnama bulan hujan kau akan selalu datang

Bulan hujan, kekasih...
Telah bungkam teriak itu
Oleh ujungujung tombak
Meredup sudah bintang dan bulan
Tapi aku akan tetap menari
Pada malammalam bulan hujan
Untuk selalu menyambut hadirmu
Merebut mimpimimpi anakanak beringus...

29.7.09

MERAPI (bias luka)

perisai malam selalu tusukkan perih
saat kucoba meraih ujung jalan mu untuk mencumbu api pada puncakmu yang beku
ini malam kekasih... ingatlah itu
sebab kau selalu bicara tentang matahari yang tak pernah bosan torehkan lara
sabarlah... tak ada jalan yang tak berakhir...
rembulan? jangan dulu kau tanyakan itu
lebih baik kita bicarakan saja tentang tujuan...

merayapi runcing batu ini seakan membawa kembali jiwaku yang telah lama pergi
aku benar-benar rindu kisah ini...
sayang kau tak sempat menemaniku
tak apa... setidaknya aku masih sempat melihat bayangmu di balik bias malam
sedang menulis sesuatu tentang perjalananku ini...
lanjutkan saja, jika memang itu yang kau inginkan
aku akan tetap mencumbu batu-batu ini
agar dapat kutorehkan pula namamu pada geliat malam yang semakin membeku

pagi...
mencoba untuk kembali menyusun bayang mu yang semalam sempat tercecer
terasa semakin dekat...
tak sabar aku untuk mengejarmu di atas langit itu
merah yang kian membiru...
kau menungguku... kulihat itu...
duduk tersenyum diatas kokohnya batu puncak garuda
aku akan segera datang...
tunggulah... sebentar lagi kita akan menulis kisah bersama...
pada bias luka...

26.7.09

Terima Kasih Kau Selalu Menungguku

terima kasih kau telah sabar menungguku
setelah lelah ku berjalan melintasi mimpi demi mimpi
mencoba mencari jejak hujan yang sedari dulu selalu tinggalkan perih
sebab ingin kumaki matahari yang tak pernah mampu keringkan lukaku
hanya rembulan.... yang selalu sanggup biaskan duka

malam... tak pernah usai taburkan sunyi
tak pernah lelah nyanyikan beku
selalu...hanya itu...
karena aku masih terjebak...
masih... di sini...
berdiri... meragu...

aku selalu takut pada lelap
sebab kau tak pernah mendatangiku dalam tidurku
sungguh aku merindu...
tapi bukan itu... kau yang selalu di sini tapi tak pernah untukku
selalu ragu... sebab luka itu...
tak pernah kering...

mungkin kau telah mulai mengerti
mengapa aku tak pernah mampu untuk tancapkan tongkat
sebab masa lalu selalu menghantuiku
pun juga masa depan yang terlalu mengerikan untuk di hadapi
bukan meragu padamu...
tapi pada diriku...
selalu...
kuharap kau mampu untuk tetap mengerti
kau akan selalu mampu untuk meraih rembulan
tapi bukan aku...
mungkin...
semoga tidak...

terima kasih kau selalu menungguku
tapi ada mu masih dalam bayang maya

15.7.09

Rembulan di Sudut Senyuman

Mungkin aku akan kembali tersesat
Ketika langkah mulai ragu pada persimpangan
Tak satu pun petunjuk itu mampu ku baca
Yang kulihat hanya rembulan sembunyi di sudut senyummu
Tapi itu pun masih kuragukan
Benarkah itu rembulan kemarin
Atau hanya bayang maya kisah silam

Semakin kutunggu, rasa sakit ini semakin menjadi
Luka yang sengaja kutoreh sendiri
Ketika kucoba menempatkan rembulan padamu
Sungguh sebuah kepahitan yang indah
Dan mungkin kau tak tahu apa yang terjadi padaku

Aku tak yakin sekuat apa ku mampu bertahan
Meski ribuan puisi kucoba bangun bentengi langkah-langkah
Kuharap kau tak pernah membacanya
Sebab ku tak ingin kau ikut merasa sakit
Dan biarkan saja bayang rembulan tetap di sana
Tetap terpatri di sudut senyummu
Dan aku cukup melukiskan saja dalam mimpi
Meski kadang ku harus kembali kehilangan jiwaku