Tampilkan postingan dengan label lelah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lelah. Tampilkan semua postingan

24.4.15

Kau Masih Setia Melukis Senyum

Sayup mulai kau lantun nadanada
Pada ujung malam yang kian pekat ini
Sekedar ingatkan aku bahwa telah lama kutersesat
Pada jalan fana pintupintu tak habishabis selalu jeratkan angan
"Syairmu telah lumpuh" kau bilang padaku
Entahlah pun aku tak juga temukan kembali
Amarah dari gelisah harihari

Kau sodorkan pena dan kertas seraya tersenyum
Namun hampa jiwa lumpuhkan sendisendi untuk menyambutnya
Entah aku memang benar tersesat
Atau ini sekedar ilusi dari semakin rumitnya putaran bumi
Kau pun tetap setia duduk di depanku
Sambil tebarkan isyarat akan ribuan makna
Yang seharusnya mampu kurangkai
Dalam untaian katakata seperti yang biasa
Aku tetap terpaku
Dan kau masih setia melukis senyuman

11.8.11

Episodes Imaginarium - Prologue

Beberapa waktu saya berfikir, merenung, kontemplasi, mencari inspirasi untuk karya kreatif yang lain...
Akhirnya tercetuslah sebuah ide untuk mengkolaborasikan puisi dengan fotografi (terutama abstract photography)...

Mungkin ini bukanlah ide baru, tetapi saya berusaha untuk memberikan sentuhan sastra pada karya fotografi yang saya buat...

Video slide dibawah ini (Prologue) merupakan episode pertama dari tiga episode (Prologue, Dialogue, Epilogue) yang nantinya akan saya buat.. Entah kapan tapi pasti dibuat, jadi ditunggu aja ya...

Selamat menikmati dan silahkan dicaci maki jika memang perlu...




Nb : ada juga thread-nya di forum Fotografer.net

6.8.11

Abstraktion, Surrealismus, und Illusion

Saya tak tahu harus menyebutnya apa..
Hanya sedikit hasil ekstraksi ide yang menggumpal di otak
Ditambah beberapa kegelisahan yang menjelma teriakteriak tanpa bunyi

Selamat menikmati....
Sedikit racun dari saya...











Silahkan dihujat jika memang layak dihujat....
Abstract photography in colaboration with poetry...

14.5.10

Kurindu Hujan, Meski Kadang Kejam

Terlanjur tak berasa pula pedih ini menyapa senyuman pucat itu
Bayanganmu kini semakin kabur dalam derai rintik sore tadi
Tak dapat kubaca langkahmu menarikan puisiku dulu
Aku semakin kehilangan katakata untuk membuatmu menulis cerita hujan
Hanya suarasuara... Mereka menjerat siluet senja emas agar tak lekas datang

Meski tak lagi deras menghujam perbincangan kita
Kau tetap saja mengira kita tak akan sanggup menembus basah
Seakan sisa hujan masih kejam tebarkan tangisan harapan
Tapi aku tetap akan membacanya
Meski terbata, aku masih punya sedikit asa untuk melukis cahaya
Aku mohon kau tetap bersedia untuk menunggu makna yang kucoba ungkapkan
Sendiri bukan alasan untuk membakar kesempatan itu
Dan kuharap kau bisa menikmati titiktitik sisa hujan ini


















Photograph by : Me

6.5.10

Senja Itu Aku ....

Kuharap kau masih ada di ujung jalan itu
Menungguku mengusap dahimu dengan senyuman jingga
Meski telah lama tak kunjung harap jemari tertatih
Aku selalu mencoba menulis puisi untukmu
Sekedar pelepas dahaga setelah kian lama perjalanan kita menipu waktu
Senja itu aku ...

Tak banyak pula harapan tersisa di ujung baju lusuh ini
Aku mengerti jika langit tak kunjung pekat
Hanya letupan melodi patahpatah
Semakin mencekat nafas kita untuk sempurnakan peluh
Maaf kali ini aku tak sanggup berjanji
Aku pun tak juga berharap kau akan mengingat bayangan itu
Semoga tak ada kekecewaan menyertai langkah kita selanjutnya


















14.4.10

Membaca Sisa hujan

Jika memang tak ada yang perlu dilukiskan lagi
Maka aku akan duduk di sudut sunyi melihatmu tertawa
Setidaknya kita sudah selesai menuliskan sajak untuk menutup kisah
Dan hujan telah sepi tinggalkan musim
Menyisakan setitik harap di atas dedaun hijau
Aku puas telah membuatmu menikmati harihari

Tak perlu lagi kau hitung langkahlangkah
Sebab aku tak akan mengikuti bayangmu lagi
Kurasa Aku tak kecewa, dan aku tau kau pasti juga
Mengingat kini pandang dan gerbang kita berbeda
Kau lebih suka dikepung gelak dan sanjung
Meski itu sengaja kau beli dengan harga hina
Sedang aku telah sempurna mengayuh sunyi bersama sisa hujan
Menjelang ujung masa
Menjelma sepuhan kilau katakata
Aku lebih baik sendiri
Mengejar matahari yang ingin pulang
Dan merapatkan rasa pada serpihan persahabatan














31.3.10

Serpihan Kata

Aku hanya ingin melanjutkan kisah yang dulu tertunda
Tak masalah jika kau tak ingin menemaniku
Sebab ini hanya imaji dan permainan
Tak perlu kau risau untuk mengumpulkan segala angan
Sebab aku tak ingin membebanimu dengan dunia yang tak pernah kau mengerti
Memang benar barisan kalimatmu kemarin cukup menyesatkanku
Tapi aku tak akan mempermasalahkannya
Dan kau pun bebas untuk menari sesuka hatimu
Sebab aku hanya mampu sedikit goreskan warnawarna
Meski itu pun tak terlalu berarti untuk tarianmu
Lantas bagaimana dengan nyanyian?
Itu pun aku tak mempedulikannya
Sebab bulan hujan selalu datang terlambat
Seperti juga puisimu yang selalu datang terlambat
Untuk menyadarkanku dari imaji sesat tentang rembulan merah

Kali ini aku tak akan mengharapkan kehadiranmu
Meski aku tak pernah bisa menyangkal
Bahwa kaulah satusatunya yang sanggup membaca sorot mataku
Sebab sudah terlalu banyak kicaukicau yang tersedak saat kau mulai bicara
Lebih baik sekarang kita hentikan paduan imaji yang selama ini kita lakukan
Aku sudah cukup merasa terjebak dalam ruang kaca itu
Dan sajakku sudah tak lagi teduh untuk pulangkan mimpi
Semoga kita tak pernah menyesal




27.3.10

Membaca Senja

Mengeja jingga dan biru...kuharap kau akan hadir di antaranya
Menyusun lantunan syair sehangat cakrawala
Dan hitam semakin selubungi tumpukan kata
Aku tak mampu lagi membaca hadirmu
Terlalu jauh untuk kuraih nyanyianmu usai merangkai hari
Tapi selalu saja aku tak sanggup beranjak
Hanya sisa tarian masih tertinggal di ujung hari
Hanya sisa...
Dan bayangmu tak pernah usai lukiskan siluet kenangan
Kuharap...
Selalu seperti ini, agar tak pernah mati kerinduanku

















lokasi foto : Pantai Maron, Semarang




24.3.10

Sebuah Sajak Perjalanan

;Kupersembahkan kepada kenangan
Kebodohan ini adalah buah perjalanan
Yang telah kujalani bersamamu dalam torehan waktu
Mengais kepingankepingan harapan
Di dalam comberan makna persaudaraan

Kebodohan ini adalah kepintaran yang lugu
Dari seorang bocah yang telah menciptakan keraguan
Akan sebuah makna perjalanan
Yang telah kabur bersama gerbonggerbong peradilan masa

Mungkin perjalanan ini akan berakhir sampai di sini
Jika darah yang tercecer telah kering
Bersama dengan muramnya sketsa mimpimimpi
Benarkah bahwa :
"Kau bukanlah yang terbaik untukku,
karna kau tak bisa melumpuhkan hatiku...?"**
Terima kasih atas harapan yang pernah kau berikan


**Penggalan Kisah Lama (Laluna)




17.3.10

Letih

Kali ini aku benarbenar tak sanggup lagi membaca senyummu
Katakata melaju tertatih pedih
Mencecar rasa selaksa hampa
Tak kurang murka mentari teriakkan parau
Sendiriku tak mudah santunkan hadirmu oleskan malam
Aku semakin rapuh...
Mengapa tak rubah masa selipkan satu bintang saja
Maka semakin maya pandang harapan yang dulu kusembah
Datanglah...
Meski hujan belum usai senandungkan rintihan musim

Kekasih,
Masih tak mampu ku lukis warna hatimu
Sebab ketakutanku padamkan cahaya rembulan di atas sana
Meski ku tahu kau masih selalu mencoba membakar malam
Tapi api itu akan selalu padam oleh rintikrintik persaudaraan
Dan aku takut kau lelah lantunkan sajak
Sebab memang aku selalu bisu
Meski kau sadar, aku pun sadar
Bahwa kau dan aku adalah katakata

Mungkinkah kita sanggup memikul
Atau kita akan kembali terlempar
Aku tahu betul bagaimana rasanya
Mungkin kau tak...
Dan kuharap takkan pernah
Apa sebaiknya kita sudahi saja
Dan kau akan lupa segala perih
Aku tahu kau bisa
Sebab masamu masih terlalu panjang untuk kuseret letih




13.3.10

Lilin Yang Tinggal Separo

Satu detik, dua detik, tiga detik...
Satu menit, dua menit, tiga menit...
Pekat ini sedikit demi sedikit mengikisnya
Satu mili, dua mili, tiga mili...
Satu senti, dua senti, tiga senti...
Kegelapan sedikit demi sedikit memakannya
Dan ketakutan semakin lama menyelubungi poripori tubuhku
Rasa dingin serasa hendak menyantapku
Kesunyian serasa hendak menikam jantungku

Tiupan angin yang menamparnampar,
terus menerus menghantui disetiap tatapan butaku
Yang kulihat hanya satu titik cahaya
Dari sepotong lilin yang tinggal separo
Tak lama lagi... tidak akan lama
Dia pasti meninggalkan aku sendiri yang masih termenung
Menunggu harapan yang tidak pasti

Sekilas aku melihat bangkai labalaba
Terkapar di sudut duniaku
Dan aku mulai tersadar
Beberapa saat lagi aku akan mengalami hal yang sama

Satu detik, dua detik, tiga detik...
Satu menit, dua menit, tiga menit...
Kegelapan menjadi warga dominan di kampung ini

Satu detik, dua detik, tiga detik...
Satu menit, dua menit, tiga menit...
Lilin yang tinggal separo telah berubah menjadi cairan bisu yang mulai mengeras
Dan aku pun...
Mulai menutup mataku




4.3.10

Senja Tanpa Hujan

Menunggu merahnya senja ini, kekasih
Aku kehilangan hangatnya senyum cakrawala
Hanya sebongkah awan merah kesepian diantara gumpalan hitam cumulus
Sepi...
Sesepi nafasmu kini yang telah larut oleh hujan kemarin
aku tak mampu berkatakata
Semakin kuraih tak juga habis jarak mentari
Dan harapan?
Mungkin hanya sekedar barisan kalimat pelebur dosa
Dan mungkin rembulan takkan datang malam nanti
Aku semakin resah...
Mampukah...
Sudahlah...
Dan diam adalah jawaban terakhir untuk mendatangimu





1.3.10

Maya

Kekasih;
Berkalikali kucoba jejalkan wajahmu dalam otakku
Agar suatu saat ketika ingin mendekapmu
Cukup kusentuh dalam mimpi
Tapi ternyata jiwaku tak mampu menerima
Betapa dirimu tak tersentuh

Bukankah dulu pernah kukatakan
Bahwa rembulan takkan lupa datang untuk mewarnai setiap sudut malam
Tapi mengapa malam ini dia malah terlelap di balik selimut kebohongannya

Bukankah dulu kau juga pernah bilang
Bahwa kau akan selalu hadir dalam setiap jengkal perjalananku
Tapi mengapa hari ini aku benarbenar merasa tidak pernah mengenalmu






22.2.10

Selangkah Lagi Kita Sampai Gerbang

Apakah kita harus berhenti sampai di sini?
Atau kita kembali saja ke dunia kemarin?
Ketika tirai panjang mulai tersibak
Keraguanmu memaksaku mempertanyakan kembali arah kita

Aku pun sadar kita telah lama bersama
Memaki matahari dan mencumbui rumputrumput basah
Dan aku masih ingin bersamamu untuk menikmati derai hujan
Meskipun kita harus melalui perjalanan yang melelahkan






20.2.10

Apa Sekarang Waktunya Istirahat

Kini kau kembali membuatku tak bisa teriak
Diammu membuatku menyangkal anggapanku sendiri
Aku tak akan menuntut apapun,
Kecuali sepatah kata yang dapat menghentikan serapahku
Dan kutahu kau masih menyimpan kata itu
Bukan keraguan yang membungkammu
Tapi keinginan untuk benarbenar mengatakannya tanpa harus berteriak

Sampai sekarang aku masih belum juga mengerti
Mengapa kita harus bersembunyi di balik tumpukan bukubuku
Padahal isi pena telah kering menggores segala macam kebodohan
Membuatku semakin muak dengan keindahan pikiran
Dan sungguh kuakui, aku begitu dendam dengan kemolekan khayalan
Maka segera datanglah untuk menjilat ketiakku

Semakin lama kupikirkan, kau malah menyudutkanku pada dilema yang rumit
Memaksaku untuk menjejalkan otak Freud ke dalam saku celanaku
Dan kulihat kau tersenyum pahit untuk kebingunganku
Sudahlah aku takkan memaksamu. Paling tidak untuk saat ini

Lagilagi aku harus mengalah untuk sebuah pernyataan
Isi kepalaku telah habis kau cincang menyertai taburan kuntum itu
Seluruh tubuhku kau lilit dengan aroma nafasmu
Tapi kau belum juga bicara, bicara tentang rembulan dan gemintang
yang sedang bermesraan di balik geliat awan

Aku malu untuk memutar kembali rekaman percakapan kita kemarin
Sebab berbagai alasan memaksamu untuk bicara
Lebih baik aku pergi dari tempat penuh bangkai ini
Tapi jangan cobacoba kau mengikutiku
Saat ini aku sedang ingin sendirian
Menghitung jejakjejak yang telah kutinggalkan pada tanah ini




17.2.10

Petikan Ungkap

I
Kekasih,
Aku menemukan serpihan hati
Tercecer di sudut sebuah taman

II
Kekasih,
Jangan punah rasa
Ketika bedil meletup menyayat sejantung masa
Harihari melompat memakna sayat
Tangisi bingkaibingkai rajaman hunus

Perempuan,
Gegurit tembang melenggang layu
Menyeret pedih derita kanak
Pada sebuah kubangan comber
Aku tersenyum... Menjilat luka...

Di sudut sana wajahmu terbenam kepungan gelak
Sementara abadku telah usai mematri cinta
Namun tak sempat menyentuh tapakmu...






16.2.10

Lukisan Tanpa Judul

Setelah sekian tahun, 3 lukisan ini masih tetap belum punya judul... dan aku masih belum mampu tentukan judul apa yang pntas untuknya...









11.2.10

Membunuh Keangkuhan di Puncak Mahameru

Membakar sudut jiwa ini dengan sisa asa
meski mentari masih terlelap berselimut kabut
Keangkuhanku mengantar tubuh menjejak peraduanmu
Lupakan saja tangisan...
Sebab saat ini aku tak punya waktu untuk manjakan rintihan
Kuharap serapahku tak letih mengecap langkah

Tak usai perjalanan tergapai cahaya
Kegagahanmu selalu kerdilkan tatapanku
Aku tergugu...
Tak habishabis airmata menumpah
Terhapus sudah jejakjejak kesombongan
Di puncak Mahameru keangkuhanku terbunuh letupan debu mu...


Sept, 2009






Mencumbu Beku di Kalimati

Saat langkah terhenti oleh batas detikdetik
Terpaku mata tak bosanbosan
Menyentuh kering rerumput lembut
Sedang bercanda dengan kemuning edelways

Aku tak sanggup bicara
Hanya kebekuan menyergap bersama senyuman sunyi
Kuharap kau tetap di sini
Menemaniku menyeduh kopi dan merajut harihari
Meski kabut tetap angkuh selimuti hamparan pasir Kalimati


Sept, 2009






Setitik Embun di Bibir Ranu Kumbolo

Memaki sunyi...
Tak lelah bibirmu menyapa keletihan peziarah mengurung beku
Kau memberi sentuhan pada layu langkahku
Sendiri tersembunyi di balik tarian rerumputan
Mendendang hembusan...

Jika memang meracun
Hanya musim yang selalu memegang janji
Tangantangan tak bosan mencaci
Kuharap masih selalu ada untuk kusentuh
Mengharap tak pernah mengalir
Kerinduanku tertanam di sini
Pada senyummu...
Terbias setitik embun di bibir Ranu Kumbolo


Sept, 2009